TUGAS MANDIRI
MANAJEMEN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN TERPADU
Disusun Oleh :
Ken
Aditya Mahadwi
19025010082
Agroteknologi B
Dosen Pengampu :
Dr.Ir. Sri Wiyatiningsih, MP
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
2021
Tanaman Nanas
(Sumber: Puspito, 2020)
Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang memiliki nama ilmiah Ananas comosus. Nanas berasal dari Brasilia (Amerika Selatan) yang telah di domestikasi disana sebelum masa Colombus. Pada abad ke-16 orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15. Di Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan, dan meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara. Buah nanas kini menjadi salah komoditas tanaman yang banyak dikonsumsi masyarakat. Buah dengan tampilan warna kuning ini memang banyak digemari oleh masyarakat. Selain dikonsumsi dalam bentuk segar, buah nanas dapat diolah menjadi berbagai macam produk seperti jus, selai, sirup dan keripik. Setiap 100 g buah nanas mengandung 80 % – 86,2 % air, 10 g – 18 g gula, 0,5 g -1,6 g asam organik, 0,3 g – 0,6 g mineral, 4,5 mg – 12 mg nitrogen, dan 180 mg protein. Di samping itu, buah nanas juga mengandung semua vitamin yang dibutuhkan tubuh.
Syarat Tumbuh Tanaman Nanas
Tanaman
nanas dapat tumbuh dan beradaptasi baik di daerah
tropis yang terletak antara 25° Lintang Utara sampai 25° Lintang Selatan dengan ketinggian tempat 100 m – 800 m dari permukaan
laut dan temperatur antara 21°C – 27°C. Curah hujan yang dibutuhkan oleh tanaman nanas adalah
sebesar 1000 mm – 1500 mm per tahun dan kelembaban udara 70% - 80%. Nanas
memerlukan tanah lempung berpasir sampai berpasir, cukup banyak mengandung
bahan organik, drainase baik, dan sebaiknya pH di antara 4,5 – 6,5.
Pelaksanaan Pengelolaan Kesehatan Tanaman Nanas
Untuk dapat menghasilkan buah
nanas yang sehat dan berkualitas, perlu diperhatikan kesehatannya. Oleh sebab
itu, proses budidaya tanaman nanas harus dilakukan secara baik dan benar serta
dengan penerapan Pengelolaan Kesehatan Tanaman (PKT). Pengelolaan Kesehatan
Tanaman mencangkup seluruh kegiatan dalam budidaya tanaman dari awal hingga
akhir.
Perbanyakan Tanaman
Nanas dapat diperbanyak secara
konvensional maupun secara in-vitro. Perbanyakan konvensional dilakukan dengan
cara generatif maupun vegetatif. Tanaman nanas dapat diperbanyak secara
generative dan vegetative, tetapi umumnya dilakukan secara vegetatif karena
biji yang dihasilkan sedikit, sulit tumbuh, dan sering terjadi segregasi. Secara
vegetatif tanaman nanas dapat diperbanyak dengan menggunakan mahkota (crown),
tunas buah (slip), tunas batang (sucker), dan anakan (Sunarjono, 2005).
Pemilihan Bibit
Sebelum ditanam, bibit harus
diseleksi terlebih dahulu. Bibit yang terserang penyakit atau tidak sehat harus
dibuang. Bibit diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan asal bibit. Hal ini dilakukan
untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, induksi pembungaan (forcing), dan
panen.
Persiapan Lahan dan Penanaman
Lahan yang akan ditanami sebaiknya dibersihkan dari batu-batuan, alang-alang, atau tunggul batang dan sebagainya supaya tidak mengganggu sistem perakaran tanaman atau menghambat penyerapan unsur hara. Pola tanam yang digunakan adalah satu baris, dua baris atau tiga baris tanaman per bedeng. Pola tanam yang banyak digunakan adalah pola dua baris tanaman per bedeng. Ukuran bedengan dibuat dengan lebar 1,2 m dan panjang sesuai kondisi lahan, dan jarak antar bedengan 50 – 60 cm. Pada umumnya penanaman nanas dilakukan secara manual dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti cangkul. Agar tanaman nanas tidak mudah roboh dan perakarannya dapat mencapai air tanah, maka tanah di sekitar pangkal batang perlu ditekan/dipadatkan, kemudian dilakukan penyiraman sampai tanah lembab dan basah.
Pemeliharaan
Pengairan dilakukan apabila
curah hujan tidak mencukupi kebutuhan tanaman. Pengairan sangat diperlukan
sampai tanaman berumur 1-2 bulan, dan pada umur selanjutnya tanaman sudah
menutupi permukaan tanah. Agar udara tersedia bagi tanaman, lahan pertanaman nanas
harus gembur. Penggemburan tanah di sekitar pertanaman dapat dilakukan beberapa
kali selama pertumbuhan tanaman nanas. Penggemburan dapat dilakukan bersamaan
dengan penyiangan dan diupayakan agar tidak merusak akar tanaman. Penjarangan
anakan sebaiknya dilakukan secara teratur, agar dapat dihasilkan buah yang
berukuran besar dan mutunya bagus. Penyulaman dilakukan paling lambat satu
bulan setelah tanam. Pemupukan pada budidaya nanas dapat dilakukan dua kali
yakni pada saat usia tanam mencapai 2-3 bulan dan dilanjutkan dengan tempo 3-4
bulan sekali hingga tanaman berbunga dan berbuah. Pupuk menggunakan pupuk Urea 100 kg, SP-36 150 kg
dan pupuk KCL 100 kg untuk tiap hektar lahan tanam.
Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Nanas
Pengendalian Hama Tanaman Nanas
Kutu Putih (Dysmicoccus brevipes)
(Sumber: Hadiati, 2008)
Kutu putih Dysmicoccus brevipes (Hemiptera :
Pseudococcidae) merupakan hama yang penting pada pertananam nanas di dunia.
Kutu putih D. brevipes merupakan penular virus penyebab penyakit layu nanas
atau Pineapple Mealybug Wilt Associated Virus (PMWaV) (Mamahit, J. M. E., dkk., 2008). Gejala serangan
kutu putih adalah tanaman berhenti tumbuh karena jaringan akar mati dan
membusuk. Pengendalian hama kutu putih ini dapat dilakukan dengan memangkas
siklus perkembangan hidupnya melalui pergiliran tanaman dengan tanaman bukan
inang dan penggunaan bibit nanas yang bebas dari kutu putih.
Thrips (Thrips tabaci)
(Sumber: Swastika, 2019)
Hama thrips memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil sekitar 1,5 mm dan berwarna cokelat. Hama inimenghisap cairan daun sehingga daun menjadi mengkerut. Serangan hama thrips juga ditandai adanya bercak berwarna keperak-perakan pada permukaan daun. Serangan yang berat mengakibatkan tanaman nanas tumbuh kerdil (Samadi,2014). Pengendalian hama thrips dapat dilakukan dengan membersihkan gulma atau tanaman yang menjadi inang Thrips seperti lumut dan jamur serta menghindari penanaman yang terus-menerus pada lahan yang sama.
Kumbang (Carpophilus hemipterus)
(Sumber: Nurwijayo, 2020)
Kumbang (Carpophilus hemipterus) , hama ini mempunyai
ukuran tubuh kecil berwarna cokelat samapi hitam, kaki dan antenanya berwarna
kuning kemerahan. Kumbang ini menyerang semua bagian tanaman nanas, terutama
nanas akan mengeluarkan getah. Bagian daging nanas akan membusuk oleh karena
mikroorganisme lain (Samadi, 2014). menyerang tanaman nanas yang memiliki luka
sehingga menimbulkan gejala bergetah dan busuk. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan kebun dan pemberian
insektisida bila
diperlukan.
Pengendalian Penyakit Tanaman Nanas
Busuk Pangkal
(Sumber: Hadiati, 2008)
Penyakit busuk pangkal disebabkan oleh jamur Ceratocystis, jamur ini hanya dapat mengadakan infeksi melalui luka, baik luka karena pemotongan maupun karena penanganan kasar. Bibit-bibit yang mempunyai bidang potongan yang cukup besar pada pangkalnya, sangat rentan terhadap penyakit, terutama jika banyakhujan (Semangun, 2007). Gejala dari penyakit busuk pangkal adalah pada pangkal bibit nanas terjadi busuk lunak yang berwarna coklat. Pembusukan ini dapat meluas ke atas, ke daun-daun sebelum atau sesudah bibit dipindah ke lapang. Pada daun timbul bercak-bercak putih kekuningan atau garis-garis yang lebar dan pendek. Buah matang yang terinfeksi menjadi busuk, berwarna kuning yang akhirnya berubah menjadi hitam. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan meletakkan bibit yang akan ditanam secara terbalik selama beberapa hari untuk menyembuhkan bagian yang luka akibat pemotongan, melakukan penanaman pada saat cuaca kering.
Busuk Akar dan Hati
(Sumber: Mandiri, A., 2019)
Penyakit busuk akar dan hati disebabkan oleh jamur Phytophthora
spp yang dapat berkembang secara cepat pada kondisi tanah yang basah dan
lembab. Penyakit ini akan berkembang dengan baik pada kondisi pertanaman nanas
yang drainasenya tidak baik atau tergenang air. Penyebaran patogen dibantu oleh
curah hujan yang tinggi. Penyakit ini memberikan kerugian yang lebih besar di
tanah yang lebih kering dan lebih panas (Semangun, 2007). Gejala dari penyakit
ini adalah tanaman muda menjadi klorosis dengan ujung nekrosis. Daun-daun muda
mudah dicabut karena pangkalnya busuk. Bagian daun yang busuk mempunyai batas
berwarna coklat. Serangan pada tanaman tua biasanya pada bagian batang yang
lunak, yaitu di bagian atas. Pengendalian dapat dilakukan dengan menjaga aerasi
dan drainase tanah agar selalu terjaga, melakukan rotasi dengan tanaman yang
resisten, dan penanaman vairetas tahan seperti Queen dan Cayenne.
Panen
Panen biasanya dilakukan 5 bulan setelah pemacuan
pembungaan. Pertanaman yang berasal dari anakan dapat dipanen 15 – 18 bulan
setelah tanam. Bibit yang berasal dari tunas batang dipanen 18 bulan setelah
tanam, dan bibit yang berasal dari mahkota dipanen 24 bulan setelah
tanam.Penentuan saat panen yang tepat perlu dilakukan secara cermat. Saat panen
yang kurang tepat dapat mempengaruhi kualitas buah. Adapun ciri-ciri buah nanas yang siap dipanen adalah
mahkota lebih terbuka, tangkai buah menjadi keriput, mata lebih datar, dan
bentuknya lebih bulat, warna kulit pada dasar buah mulai menguning, aroma buah
mulai muncul.
DAFTAR PUSTAKA
Hadiati, S. 2008. Budidaya nanas. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. Solok.
Mamahit, J. M. E., Manuwoto, S., Hidayat, P., & Sobir, S.
(2008). Biologi Kutu Putih Dysmicoccus Brevipes Cockerell (Hemiptera:
Pseudococcidae) pada Tanaman Nenas dan Kencur.
Bul. Littro. 19(2): 164-173.
Mandiri, A. 2019. Busuk Hati dan
Busuk akar pada Nanas oleh Phytophthora sp.
https://agrokomplekskita.com/busuk-hati-dan-busuk-akar-pada-nanas-oleh-phytophthora-sp/.
Diakses tanggal
13 April 2021.
Nurwijayo, W. 2020. Ketahui Hama dan
Penyakit Menyerang Buah Nanas beserta Pengendaliannya. https://gdmorganic.com/hama-dan-penyakit-nanas/.
Diakses tanggal
13 April 2021.
Puspito, S.
2020. Mengenal Tanaman Nenas dan Manfaatnya. http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/94273/MENGENAL-TANAMAN-NENAS-DAN-MANFAATNYA/. Diakses tanggal
13 April 2021.
Samadi, budi.
2014. Panen Untung dari Budi Daya Nanas Sistem Organik. Penerbit Andi.
Yogyakarta. 117 hal.
Semangun, H.
2007. Penyakit-penyakit Hortikultura di Indonesia. Ed ke-2. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Sunarjono, H. 2005. Berkebun 21 Jenis
Tanaman Buah. Cetakan Ke-2. Penebar Swadaya. Jakarta.
Swastika, I.W.
2019. Pengendalian Hama Kutu Daun (Thrips Tabaci Lind).
http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/85282/PENGENDALIAN-HAMA-KUTU-DAUN-THRIPS-TABACI-LIND/.
Diakses tanggal
13 April 2021.





